Bapak Pulang Haji



Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang diwajibkan bagi setiap Muslim jika mampu menunaikannya dan tentu saja menjadi cita-cita mulia yang diidamkan setiap Muslim. Bahkan bagi sebagian orang memiliki gelar Haji/Hajjah dianggap mampu menaikkan derajat sosial di lingkungannya (Naudzubillah min zalik).

Sedikit cerita nih, di daerah saya ada sekumpulan ibu-ibu hajjah yang membentuk komunitas sendiri. Jika salah satu di antara mereka menggelar acara walimahan bahkan syukuran kecil-kecilan sekalipun maka ibu-ibu yang tergabung di komunitas ini berkumpul dengan kostum hajjah dan segala pernak-pernik menterengnya. Jangan pernah membayangkan kostum hajjah yang saya maksud seperti jilbab atau pakaian muslimah pada umumnya, tapi kostum mereka sungguh tidak menunjukkan identitas muslim seperti yang seharusnya. Di komunitas ini juga digelar arisan yang dikenal dengan istilah “Arisan Haji”. Itu sekedar gambaran singkat saja karena yang mau saya tulis disini tentang Bapak Pulang Haji, kalau mau selengkapnya nanti saya kumpulin bahan dulu sekaligus foto tindak-tanduk komunitas ini yang komplit…plit. Tapi kalau maksa juga mau tahu sekarang, ini saya kasih link yang juga sedikit cerita tentang Hajjah Gaul ini, langsung saja klik Ladewa’s Library.

  OK, kembali ke topik. Musim haji tahun ini adalah momen paling menyenangkan bagi Bapak. Bagaimana tidak, setelah usia beliau menginjak angka 74, cita-citanya menunaikan ibadah haji baru terlaksana.


Bapak dulunya adalah seorang guru SD yang sudah pasti kehidupannya sangat sederhana (baca : susah). Kita pasti sudah maklum kalau penghasilan guru pada saat itu amat sangat kecil, sehingga bermimpi untuk naik hajipun tak akan sanggup, makan sehari-hari saja susahnya minta ampun. Tapi Bapak adalah sosok pria tangguh yang selalu optimis akan masa depan, tokoh panutan dan idola bagi kami anak-anaknya. Meski hidup sederhana, namun Bapak selalu mensyukuri keadaannya, menikmati kehidupannya bersama tujuh orang anak yang patuh dan seorang istri yang sabar dan setia.

Mengandalkan gaji sebagai guru SD Bapak menyekolahkan kami anak-anaknya, karena baginya selain pendidikan agama, pendidikan formal adalah jalan yang paling masuk akal agar kelak anak-anaknya tidak hidup terlantar. Masih sangat jelas pesan Bapak dan Ibu saat kami masih kecil “jika kalian tidak sekolah maka kalian tidak akan mendapatkan apa-apa dari kami, karena kami tidak punya harta, tanah dll untuk menjadi warisan kalian, maka sekolahlah setinggi-tingginya karena hanya itulah warisan kami untuk kalian”. Kata-kata itulah yang selalu menjadi motivasi hingga kami semua mendapatkan warisan yang bernama “SARJANA”, kecuali adik bungsu kami yang masih menjalani pendidikan es-satu nya.

Sejak masa kerja Bapak kadaluwarsa alias pensiun hampir dua puluh tahun silam hingga sekarang, beliau menghabiskan waktunya menjadi Imam Masjid sambil menanti hasil kerja kerasnya dari anak-anak yang sudah mendapat warisan “SARJANA” agar impiannya untuk naik haji dapat terlaksana. Alhamdulillah, tahun ini cita-cita sederhananya sudah tercapai, namun sayang sang istri tercinta yang sabar dan setia mendampingi puluhan tahun hidupnya, wanita paling tangguh seluruh dunia di mata kami anak-anaknya, tidak bisa menemani beliau menikmati ibadah di tanah suci. Ibunda sudah lebih dulu menghadap ke pangkuan-Nya sekitar setahun silam (doa kami selalu bersamamu), namun beliau pasti tersenyum di alam sana melihat Bapak pulang haji yang Insya Allah menjadi haji mabrur dan kembali ke kampung halaman untuk mendampingi, membimbing dan menikmati hidupnya bersama anak-anak dan cucu-cucunya. “Selamat Datang Bapak…………..!!!”