Home » » Curahan Hati Seorang Bawahan

Curahan Hati Seorang Bawahan

Memang menjadi seorang bawahan itu harus siap disuruh-suruh atau diomelin dan berani menanggung resiko makan hati setiap hari, apalagi kalau posisi kita bawahannya bawahan seperti posisi saya di tempat kerja. Bagi saya itu semua hal biasa, seperti yang terjadi sama saya kemarin.

Menjelang peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 65 seperti tahun-tahun sebelumnya semua instansi baik itu sekolah-sekolah, kantor pemerintah, perusahaan dan lain-lain sibuk berbenah menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut hari paling bersejarah tersebut. Di tempat kerja saya, hari itu lagi sibuk bersih-bersih, mengecat pagar, membuat hiasan-hiasan dan aneka pernak pernik agar tidak ketinggalan dengan instansi lain. Saya sebagai bawahannya bawahan tentu saja menjadi orang paling sibuk di antara yang lain. Saat pegawai lain istirahat karena sudah masuk jam makan siang, saya tetap menyibukkan diri, disamping untuk cari-cari muka juga karena saya ada rencana tidak masuk kerja untuk tiga hari kedepan. Bukannya untuk menghindari pekerjaan, tapi memang ada acara keluarga di luar daerah yang dibilang penting nggak juga, namun dibilang nggak penting tapi penting juga.

Penting, nggak penting, maksudnya? Begini, kemarin itu saat makan malam dengan istri dan mertua (waduh, jadi ketahuan kalau masih numpang di rumah mertua), bapak mertua mengajak saya untuk menemani beliau ke acara pengantin kemenakannya di luar daerah. Tempat acara pengantin ini agak jauh dari daerah tempat tinggal saya, mungkin sekitar 300 km kurang lebih, namanya kota Bantaeng, sekitar 120 km sebelah selatan kota Makassar. Sebenarnya saya pribadi kurang tertarik karena di kantor itu lagi banyak kegiatan seperti yang saya ceritakan di atas. Tapi ada dua pertimbangan yang membuat saya memutuskan untuk ikut menemani beliau. Pertama, karena saya memang belum pernah ke daerah itu, dan yang kedua, mana berani saya menolak ajakan mertua (ketahuan lagi deh kalau takut sama mertua). Itulah mengapa saya bilang ini penting nggak penting hehee…

Sampai dimana tadi? Oh iya, yang sibuk cari muka ya? hehee, jadi singkat cerita saya sengaja menyibukkan diri untuk membayar ketidakhadiran saya tiga hari kedepan. Sore hari saat semuanya siap-siap pulang, saya menuju ke ruangan atasan saya yang sebenarnya sangat saya hormati. Atasan saya ini di tempat kerja dikenal sebagai orang yang bijaksana, tidak pernah telat shalat berjamaah lima waktu di masjid dan selalu punya solusi jika ada permasalahan di kantor, pokoknya dimata teman-teman di kantor beliau adalah sosok paling sempurna sebagai atasan, namanya saya sebut saja Pak Bos.

Saat masuk ruangan Pak Bos, beliau sedang diskusi dengan salah seorang staf yang biasa dipanggil Bu Aji. Bu Aji Tersenyum ke arah saya, tapi Pak Bos sedang memelototi laptopnya. Dengan hati-hati saya mulai mengutarakan niat saya “Maaf Pak Bos, saya mau izin keluar daerah selama dua hari (padahal rencananya saya tiga hari disana), jadi mungkin mulai besok saya tidak bisa masuk kantor dulu”. Pak Bos tetap melotot ke arah laptopnya, “Ada acara apa?” Bu Aji bertanya. “Ada acara kawinan keluarga Bu Aji” Jawabku. “Boleh kan Pak?” Pintaku sama Pak Bos. Tapi Pak Bos tetap serius memandang mesra ke monitor. “Bagaimana Pak?” tanyaku lagi mulai kesal karena dicuekin, tapi tetap dengan suara yang lemah gemulai.. eh, maksudnya lemah lembut. Sepertinya memang ada yang sangat serius di Laptop Pak Bos, hingga memandang ke arah saya pun tidak dapat beliau berikan. Sambil senyum ke arah Bu Aji saya langsung ngeloyor pergi, ambil motor, tancap gas, kabuuuuuuuuurr.

Saya tidak habis pikir ya, orang yang selama ini saya anggap paling bijaksana, alim dan baik hati, hari itu membuat saya sakit hati. Kalau tidak diizinkan kan tinggal bilang tidak, kalau diizinkan tinggal kasih izin, tapi kalau diam, saya kan nggak tahu diizinkan atau tidak. Tapi karena urusan saya memang sangat penting (menyangkut hubungan mertua dan menantu) maka saya anggap saja diamnya itu berarti memberi izin, heheee.

4 komentar:

  1. sip gan, kita bukan mentalist yang bisa baca pikiran orang, bukankah begitu saudaraku....

    BalasHapus
  2. Betul sob, memang kadang2 diam itu lebih baik, tapi dalam kasus ini diamnya justru bikin sakit hati...

    BalasHapus
  3. Benar apa yang diperkatakan. Kadang2 hati kita tak sama dengan hati orang. Macam KN ni…terlebih jaga hati orang…diri sendiri pulak makan hati.thanks..

    BalasHapus
  4. Peraturan dan undang-undang yang sudah ditetapkan memang harus dijalankan sebaik-baiknya, namun terkadang ada istilah peraturan dan undang-undang dibuat memang untuk dilanggar.

    BalasHapus