Home » » Korban Makelar Listrik

Korban Makelar Listrik

Makelar yang sehari-hari kita kenal ada banyak jenis. Jika yang lagi marak di TV dan di koran-koran sekarang ada yang namanya MARKUS (Makelar Kasus) yang berkeliaran di dunia hukum, ada juga MARTEN (Makelar Tender) yang main petak umpet di pemerintahan, nah yang satu ini saya sebut MATRIK (Makelar Listrik). Kalau makelar jenis ini berkeliaran di mana-mana membodohi masyarakat awam lagi malas, salah satunya saya. 

Saya tidak munafik dan tidak bakal berkelit kalau ada yang bilangsaya ini termasuk tipe manusia malas yang kalau ngurus apa-apa ingin serba cepat dan praktis. Untuk mendapatkan pelayanan cepat dan praktis serta tidak bertele-tele ini biasanya saya menggunakan jasa calo, seperti tahun lalu misalnya waktu ngurus SIM (Surat Izin Mengemudi) di Polres setempat, daripada pusing-pusing mengikuti berbagai macam prosedur yang menghabiskan banyak waktu dan tenaga (walaupun sebenarnya saya tidak sibuk-sibuk amat) saya pake calo, dan hasilnya SIM jadi hanya dalam tempo satu hari meskipun biayanya agak di atas standar. Begitu juga waktu ngurus KTP yang sebenarnya digratiskan oleh pemerintah daerah setempat, tapi karena nggak mau pusing dengan segala macam berkas dan memakan waktu lama saya pilih memakai jasa calo, tinggal ngasih tiga puluh ribuan selesai dalam beberapa jam, uenak bukan?

Tapi kali ini saya kena batunya, niatnya ingin cepat dan praktis malah yang ada lama dan bertele-tele. Iya, ceritanya kan saya mau pindahan nih dari tempat usaha lama yang masih nyewa ke rumah sendiri yang baru setengah jadi, tapi biarpun setengah jadi yang penting rumah sendiri jadi nggak pusing lagi dengan ongkos sewa rumah. Waktu itu kebetulan negara kita khususnya di daerah saya lagi krisis listrik sehingga pemadaman listrik secara bergilir lagi trend-trendnya (fashion kali lagi trend), otomatis saat itu PLN tidak melayani pemasangan listrik baru. Dari pengaman saya terdahulu hal-hal seperti ini sebenarnya bisa diatasi asalkan kita punya orang dalam (ini kan sudah lumrah di negara kita). Orang dalam yang saya maksud disini ya orang yang kerja di PLN atau setidaknya dekat dengan orang-orang PLN. Pucuk dicinta ulam pun tiba, ternyata tetangga saya ada yang bekerja di sebuah perusahaan komanditer mitra PLN yang memang mengurusi pengadaan listrik di daerah saya. Langsung saja saya ke TKP dan menemui orang dimaksud, cerita punya cerita terjadi kesepakatan dengan perjanjian saya bayar cash sembilan juta setengah  listrik langsung terpasang (padahal biaya normalnya untuk kapasitas listrik yang saya inginkan hanya berkisar enam juta rupiah).

Setelah proses pembayaran usai pemasangan yang dijanjikan tak kunjung datang, dengan seribu satu alasan si Baha yang sekarang saya gelari si MATRIK (Makelar Listrik) selalu berkelit dan mengatakan krisis listrik saat ini memang parah dan sama sekali tidak ada jalan. Waktu menghadap ke kantor PLN, merekapun ngasih solusi sambil menunggu listrik normal dan pemasangan baru untuk sementara saya dianjurkan menggunakan listrik multi guna. Program ini sebenarnya bisa dibilang legal tapi bisa juga illegal, legalnya karena yang punya program itu PLN cabang sendiri yang tentu saja mendapatkan untuk berlipat karena pelanggan mesti membayar mahal (waktu itu saya bayar sekitar 920.000 tiap bulan tanpa terpengaruh dengan sedikit banyaknya pemakaian). Ilegalnya karena (hanya menurut saya nih) saya tidak tahu apakah program itu diketahui oleh PLN pusat karena dengan adanya program ini sama saja dengan menambah beban pemakaian listrik yang saat itu, lagi krisis, apalagi sistemnya yang mencantol listrik dari rumah tetangga terdekat.  Dengan terpaksa dan berat hati saya terima saja sambil berharap krisis listrik segera berakhir.

Sekitar dua bulan berlalu karena krisis listrik makin parah program Listrik Multi Guna ini pun dihapus, jadi semua pengguna Listrik Multi Guna harus rela melihat sambungan listriknya dicabut. Daripada usaha nggak jalan saya putuskan beli Genset sendiri sambil tak bosan-bosannya mendatangi si MATRIK Baha yang seakan selalu siap dengan alasan dan janji-janji sorganya. Ada beberapa kata-kata si Baha yang selalu jadi senjata ampuh dan sudah saya hafal di luar kepala “nggak lama lagi”, atau “sabar aja, bulan depan Insya Allah” dan “Tenang aja, tinggal tunggu perintah PLN saja”, kalau dengar kata-kata ini ‘huhh’ rasanya tambah kesal,diajak berantem bisa-bisa urusan tambah gawat. Bisa sobat bayangkan kalau tiap hari mulai jam 8 pagi hingga jam 8 malam genset terus jalan kira-kira menghabiskan bensin berapa banyak?. Dan ini terus berjalan hingga sekarang, kurang lebih enam bulan sudah saya menggantungkan usaha dengan pembangkit listrik sendiri. Mungkin inilah akibatnya kalau terlalu mengandalkan calo, sudah bayar mahal-mahal biar cepat dan nggak ribet, eeh malah bikin pusing, seperti kata pepatah “penyesalan selalu datang terlambat”.

0 komentar:

Posting Komentar