Tayangan Sampah di Televisi Ramaikan Pilpres 2014

Beberapa waktu lalu, Partai-partai politik mendeklarasikan koalisi untuk memenangkan Pemilu Presiden 9 Juli 2014, sejak saat itu pula (bahkan sebenarnya jauh sebelum Pemilu Legislatif) stasiun-stasiun televisi favorit saya menjadi tayangan memuakkan. Stasiun tv yang sebelumnya menjadi pilihan tontonan yang bagus di tengah-tengah gempuran tayangan sampah, katakanlah sinetron, info tai men infotainment, oplosan dan seabrek tontontan perusak moral (bukan tanda kutip ya!), kini menjadi media pencitraan dan media fitnah memfitnah bagi tokoh Capres Cawapres.


Kode etik jurnalistik seperti diabaikan begitu saja, terang-terangan, tak ada lagi malu-malu. Media-media itu kini buka-bukaan mendukung Capres jagoannya dan menjelek-jelekkan Capres lain, dan begitu sebaliknya.

Apa daya, kini perang terbuka sudah terlanjur digelar. Padahal sejatinya, peran  media massa yang sangat strategis diharapkan untuk turut menyukseskan Pemilu 2014 agar dapat berjalan dengan langsung, umum, bebas, rahasia, adil dan  aman.

Untuk itu diperlukan media massa yang memiliki tanggung jawab dan menemukan cara terbaik untuk ikut mendorong Pemilu yang sukses dari sisi proses dan hasil. Harapan utamanya adalah bagaimana independensi media massa dalam menyajikan pemberitaan.

Kesan kita sekarang ini adalah  ingin melihat perubahan melalui Pilpres yang sudah di depan mata, seperti yang diumbar kedua Capres kita melalui visi dan misinya.

Lalu apa saja yang kita butuhkan selaku pemilih, yang notabene akan menentukan nasib Indonesia ke depan? Apa yang kita harapkan dari tayangan berita yang kita tonton tiap hari?. Di sinilah peran media itu harus bekerja dan  mengelola kebutuhan tersebut untuk membantu kita menentukan pilihan, mencari leader, seorang pemimpin lima tahun ke depan dengan cara yang objektif pastinya.

Persoalan yang akan terjadi bilamana media yang kita harapkan untuk memberitakan semua hal terkait Pemilu secara independen itu, ternyata dimiliki oleh pemilik yang juga menjadi pelaku politik.

Di dalam fungsi media harus dibedakan antara independensi dan netral. Esensi independensi adalah hak untuk menentukan, ada pilihan atau alternatif. Independen tidak harus identik dengan netral. Netral bisa berarti tidak bebas memilih sesuatu meskipun itu kita anggap benar. Namun, "keberpihakan" jangan meninggalkan pilar media yang demokratis. Kalau asas itu ditinggalkan, maka media massa akan menjadi pamflet atau propaganda.

Dalam masyarakat yang demokratis, media tidak boleh dilarang memiliki sikap politik tertentu, tidak boleh dilarang memiliki keyakinan politik atau ideologi politik tertentu, sepanjang hal itu tidak meninggalkan prinsip  media massa  demokratis yang baik, yaitu adil berimbang dan sungguh-sungguh memperhatikan kepentingan publik.

Namun itu semua tinggal dongeng. Dua media yang dulunya saya banggakan, kini menjadi tunggangan untuk saling gebuk, saling fitnah, saling buka aib masa lalu yang bahkan belum terbukti kebenarannya.

So, mari kita membuka mata. Cari referensi lain untuk menentukan pilihan, jangan terpaku pada televisi atau media massa lain. Yakinlah, di tayangan televisi sekarang ini, objektivitas berita sudah langka (atau bahkan sudah punah). Wadah untuk mencari informasi masih banyak kok, dan saya yakin kita semua sudah terbebas dari BUNET (Buta Internet).

Karena curhat saya sudah selesai, sekarang saatnya nonton Haji Muhiddin.......... :D

Robbie Williams Simple WPAP

Kalo kemarin saya posting vektor kartun Robbie Williams, kali ini saya posting hasil coba-coba saya ber-WPAP (Wheda's Pop Art Portrait) dengan objek yang sama. Gaya vektor ini asli milik orang Indonesia lho, yakni Om Wheda Abdul Rasyid.
Pada prinsipnya, WPAP sama seperti vektor kartun yakni menjiplak (tracing) foto yang ingin dibuat WPAP, namun bedanya tarikan garis harus lurus (tidak boleh ada kurva alias garis melengkung). Biasanya dalam komunitas WPAP ada ungkapan 'jangan ada kurva di antara kita'. Garis ini nantinya akan membentuk bidang berkotak-kotak yang marak dengan warna-warna dinamis. Makanya sebelum diberi nama WPAP, jenis karya seperti ini dulunya disebut Foto Marak Berkotak (FMB).




Maaf kalo hasilnya masih segini, soalnya saya masih kesulitan menentukan warna di setiap bidangnya, makanya dibikin yang simpel saja dulu.

Simple Vector Jusuf Kalla (JK)

Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (lahir di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942; umur 72 tahun), atau sering ditulis Jusuf Kalla saja atau JK, adalah mantan Wakil Presiden Indonesia yang menjabat pada 2004 – 2009 dan Ketua Umum Partai Golongan Karya pada periode yang sama. JK menjadi capres bersama Wiranto dalam Pilpres 2009 yang diusung Golkar dan Hanura. Jusuf Kalla pernah menjabat sebagai menteri di era pemerintahan Abdurrahman Wahid (Presiden RI yang ke-4), tetapi diberhentikan dengan tuduhan terlibat KKN. Jusuf Kalla kembali diangkat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat di bawah pemerintahan Megawati Soekarnoputri (Presiden RI yang ke-5). Melalui Munas Palang Merah Indonesia ke XIX, Jusuf Kalla terpilih menjadi ketua umum Palang Merah Indonesia periode 2009-2014. Selain itu beliau juga terpilih sebagai ketua umum Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia periode 2012-2017 dalam Muktamar VI DMI di Jakarta. (sumber: wikipedia)


Gambar vektor ini dibuat untuk kebutuhan grafis di Koran Harian AjatapparengNews masih menggunakan software CorelDraw x5, durasi pengerjaan kurang lebih 45 menit.

Line Art Naufal dan Fawwaaz


Diantara beberapa jenis vektor kartun, Line Art bisa dibilang yang paling relatif mudah. Prinsip kerjanya hanya men-trace garis-garis tegas yang ada pada foto source. Jadi Line Art itu, menurut saya hanya terdiri dari dua warna yakni warna terang dan gelap. Biasanya, warna terang sebagai backgroundnya sedangkan warna gelapnya itulah yang merupakan hasil trace dan membentuk karakter gambar yang kita inginkan. Gambar Line Art Naufal dan Fawwaaz ini adalah salah satu contoh Line Art sederhana.



Eh, perkenalkan... Naufal dan Fawwaaz itu kemenakan saya, biasa disapa dengan Oppank dan Awwaz. Ini dia gambar source-nya...






Vektor Robbie Williams

Robbie Williams. Pecinta musik pasti tak asing lagi dengan artis yang satu ini. Penyanyi dan pencipta lagu asal Inggris ini lahir di Stoke on Trent, United Kingdom, 13 Februari 1974. Pada awal karirnya ia lebih dikenal sebagai salah seorang anggota dari grup musik Take That, namun ia kini mampu eksis sebagai salah satu penyanyi solo ternama dengan lagu-lagu hitsnya Feel, Tobe a Better Man dan lain-lain. Seperti biasa, vektor ini dibuat dengan aplikasi CorelDraw dengan tool sederhana Bezier.